Tampilkan postingan dengan label cerita. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cerita. Tampilkan semua postingan

Rabu, 24 Februari 2010

Makmum masbuk

Hee...lagi lebay banged...dalam semalem 2 kali mosting...pengen berchas-chis-chus waee...:p

Sudah ada judul, langsung aee...
Makmum masbuk yaitu makmum yang tidak mendapatkan waktu yang cukup membaca Al-Fatihah seluruhnya kecuali hanya takbiratul ihram atau mendapatkan imamnya lagi ruku’..

Padahal, menurut buku yang sudah pernah saya baca (lupa judulnya), setelah imam membaca surat al-fatihah, malaikat ikut mendoakan kita dengan cara meng-Amin-i. Nah, apabila kita bersamaan mengucapkan "Amin", maka itu adalah doa yang makbul (Wallahu'alam). Akan sangat "eman2" jika kita tidak mendapatkannya. Kita tahu bahwa surat al-fatihah adalah doa yang kereeennn banget...
Pilihan ada di tanganmu...

Mulailah membiasakan diri untuk menjadi makmum yang masih bisa membaca al-fatihah..
Ingat2 waktu sholat, kalau perlu di alarm dan bersegeralah mengambil air wudhu...

Hemmm...satu lagi konsekuensi jadi makmum masbuk terutama untuk sholat shubuh dan isyak...
Karena jadi makmum masbuk, setelah sholat kudu matiin kipas angin, lampu dan nutup pintu langgar....(heee....nek ini berlaku bagi sayyaa....^^)
Tapi masih ada untungnya jg lhoo...soalnya dibantuin bapak-bapak buat nutupin jendela nya...hee..(lagi):p

Mari sholat berjamaah dan tepat waktu....!!!

Selasa, 26 Januari 2010

Perbaikan gizi di "Hari Gizi" he he he

Lebih tepatnya kemaren, tgl 25 Januari 2010. Dikarenakan sesuatu hal, baru bisa posting sekarang..hehehe....
hemm...ada apa di hari gizi????
Hhhooo....ditempat saya (tepatnya di wilayah Ngampilan, Jogjakarta) diadakan serangkaian kegiatan berkenaan dengan hari Gizi. Kegiatan ini terlaksana kerjasama beberapa lembaga/organisasi yang ada di wilayah Ngampilan dan sekitarnya. Berawal dari instruksi PWA DIY yang menghimbau seluruh cabang di di DIY untuk melaksanakan kegiatan berkaitan dengan Hari Gizi. Akhirnya, PCA Ngampilan merangkul kami (PCNA ngampilan) beserta RS PKU Muhammadiyah, Stikes 'Aisyiyah, IGABA( Ikatan Guru TK ABA_red) dll untuk turut serta dalam kegiatan ini...
Oh iya,,kegiatan ini diselenggarakan di PAY Serangan...:)
Ni dia nih kegiatannya....
jam 6 pagi, ibu2 dan mbah2 dah standby di halaman PAY serangan, daftar ulang, trus langsung cek tensi...waaa...disini ruamee buanget...namanya juga ibu-ibu..hehehe...
jam 7, cek tensi di-cut dulu, lanjut senam lansia (senam tongkat,,?hohoho)...waa..ibu2 n mbah2 semangat sekali 'n gak kelupaan untuk tersenyum...:) (lucu liat gerakannya..hihihiii...)
jam 7.45, istirahat sejenak sambil menyantap bubur dan teh anget...hmmm....
ini niy PMT (Pemberian Makanan Tambahan)-nya buat ibu2 n mbah2...
jam 8, peserta dipersilakan masuk ke gedung serba guna untuk mengikuti acara inti.
disusul para tamu undangan yang satu persatu berdatangan...
(wakil dari PDA, ketua PWA, wakil dari PPA, pak RW setempat, pak lurah, pak camat, kepala puskesmas, wakil dari KUA, dll)
Setelah pembukaan, pembacaan alqur'an, menyanyikan mars Aisyiyah, sambutan2 (yang puanjang-puanjaaaaaaaang bgt, he ^^), kemudian baru penyuluhan kesehatan yang pembicaranya didatangkan dari RS PKU Muhammadiyah...
Yaa...kira2 jam 10 selesai semua...
Nah acara selanjutnya, cek tensi lagi(bagi ibu2, mbah2, plus panitia yang lum sempat), cek gula darah (yang ini harus bayar 10rb buat bayar alatnya), cek kadar lemak, plus minuman susu kedelai, anlene yang gratis tis tis....hehehe....
(ikutin smuaaa plus minum susu kedelainya, he...Alhamdulillah normal..^__^)
jam 11, saatnya posyandu balita,,,
hiiii gemes deh liat anak2 iniy,,,,ditimbang pake timbangan kodok, (mupeng), cek gigi, penyuluhan, and then PMT buat balita yang menu nya bener2 4 sehat 5 sempurna....^^

Di lain tempat,,,,tepatnya di aula stikes 'Aisyiyah (sebelah utara persis dari PAY)....dimulai dari jam 8 dan berakhir kira2 jam 10...
disitu kumpul semua anak2 TK ABA di wilayah ngampilan,,, duduk bersama mendengarkan cerita dari Kak Bimo, slain itu ada lomba masak makanan sehat yang diikuti wali per TK...
Pokoke Seruuuuu......^_^

Hosh hosh...
sekian berita dari sayya...hehe...^_^

Sabtu, 23 Januari 2010

Kuikhlaskan dirimu untuk Nya

Cinta adalah sebuah fitrah yang tiada terkira gejolaknya. Karena cinta kita bisa melakukan segalanya. Untuk cinta kita rela berkorban bahkan mengorbankan cinta itu sendiri demi tujuan yang lebih mulia. Artikel ini mengisahkan sepasang aktivis dakwah kampus yang saling mencinta namun mengikhlaskan cintanya pada orang yang dicintainya untuk Allah.

Seorang akhwat berproses dalam kemajuan dakwah yang pesat. Perlahan-lahan dirinya yang sederhana menjadi bunga yang merekah di ladang dakwah. Dia mengerahkan seluruh jiwa dan raganya untuk berjuang di jalan-Nya. Seakan-akan dia selalu melihat surga di ujung sana, menantinya dengan sepenuh senyuman cinta. Ia bergerak dengan suka cita sambil terus belajar mengeja ayat-ayat-Nya.

Perlahan-lahan dia mulai memasuki arena dakwah kampus yang sarat dengan ta’awun antara ikhwan-akhwat. Dia harus menyesuaikan diri dengan perubahan yang dramatis ini. Yang awalnya ia hanya bekerja sendirian kini ada partner dakwah ikhwan yang menemani. Bersama dengan aktivis yang lain mereka bergerak melakukan perubahan-perubahan kecil demi terciptanya kampus yang rindu Ilahi. Pepatah petitih jawa mengatakn, “Trisno jalaran seko kulino.” Maka singkatnya dalam hati kedua aktivis ini timbullah cinta, cinta kepada selain jenis yang merupakan fitrah tak terhingga.

Mereka saling mengetahui satu sama lain karena lingkungan tanpa sengaja menceritakan. Mereka mengenal satu sama lain karena Allah tanpa sadar menyatukan. Keduanya berada dalam lingkaran virus yang menelan banyak korban dari kalangan aktivis dakwah. That’s VMJ or Virus merah Jambu.

Ikhwan juga telah berubah dari yang dulunya bisa menjaga pandangan kini mulai menatap penuh perhatian dari kejauhan. Yang awalnya tegas kini jadi lebih lembut dan penuh canda. Beruntung Allah masih menjaga separuh hati mereka sehingga mereka masih menjaga jarak satu dengan yang lainnya walau ekspresi dan segala isyarat menandakan pertautan tak tampak diantara keduanya. Ya… keduanya telah menaruh harap pada yang lainnya…

Akhwat bagaikan tersadar dari mimpi panjang… Ia sadar cinta ini terlarang. Cinta ini menimbulkan bersitan-bersitan aneh kala melakukan kerja-kerja dakwah hingga akhirnya merobohkan pondasi dakwah itu sendiri. Ia sadar kini harapannya telah tertumpu pada satu dosa yang terselubung, dosa niat berbuat bukan lagi karena ridunya pada surga. Kini ia melakukannya demi cinta pada selain-Nya. Ia ingin melepaskan, tapi entah kenapa sulit sekali melakukan… Selalu ada celah kecil yang membuat mereka tanpa sengaja bertemu dan bekerjasama lagi. Walau pintu-pintu hati telah dikunci rapat untuknya, tetapi selalu ada kunci lainnya yang membuka gerbang cinta itu lagi. Kunci itu adalah harapannya pada sang ikhwan untuk menjadi pendamping hidupnya kelak. Entah kenapa muncul harapan itu. Padahal selama ini mereka tiada pernah berkomunikasi melainkan ketika ada agenda dakwah. Padahal mereka menjaga jarak dalam keseharian, tiada pernah melakukan tindakan maksiat fisik. Tapi akhirnya akhwat tersadar… mereka telah melakukan maksiat hati yang lebih parah akibatnya daripada maksiat fisik. Dan maksiat hati yang ia lakukan adalah menaruh harapan pada ikhwan itu sehingga seluruh pondasi amal bukan lagi karena Allah. Ya Ilahi rabbi… ampunilah hamba… rintihnya dalam keremangan malam…

Setiap malam akhwat berdoa agar dirinya terjauh dari itu semua. Isak tangis menemani malam-malamnya kala meminta. Ia merintih dalam bisu… Ia mengakui pada Yang Maha Mengetahui segala isi hati, bahwa ia memang sulit melepaskan ikhwan yang telah bersemayam di hatinya, tapi ia juga ingin membuangnya jauh-jauh dari segala harapnya. Ia menangis karena ia terlalu lemah untuk meminta sesuatu yang bertentangan dengan hatinya. Ia meminta dijauhkan dari ikhwan itu padahal ia tahu persis ia telah terlajur mencintai ikhwan itu dari relung hatinya. Ikhwan yang bertalenta itu telah menjadi bagian hatinya… Tapi ia tidak bisa meninggalkan ikhwan itu menetap di hatinya… Ia harus melepaskan ikhwan itu dari hatinya, demi cintanya pada Sang Khalik. Ia akan mengikhlaskan ikhwan itu kepada Allah… Jika mereka harus berpisah maka ia rela berpisah demi Allah, walau hati perih terasa meniggalkan jejak-jejak yang telah ternoda.

Tetapi ternyata sangatlah sulit melepaskan harapan yang telah ada, walau bukan karena-Nya. Berulangkali akhwat terjatuh dan tertatih dalam isak dan tangis. Meminta agar dijauhkan dari sesuatu yang ingin dimilikinya. Tapi karena ia takut pada Allah dan terlalu cinta pada-Nya, maka ia tak pernah berhenti meminta. Bahkan ia meminta… gantikan saja hatinya yang telah ternoda dengan hati yang lain, hati yang suci seputih kabut, hati milik para bidadari surga. Tapi apakah mungkin hadiah itu diberikan Allah pada-Nya? Sedang ia hanyalah seorang manusia yang bergelimang dosa tak tampak. Bersitan itu telah menimbulkan hatinya hitam sepekat arang. Masihkah ada pintu surga yang bisa kulalui, wahai Rabb??? Batin sang akhwat dalam hatinya…

Perlahan malam menggantikan siang dan mentari berganti rembulan. Telah berjuta kali hatinya meminta, lalu ia terjatuh dan merangkak dalam kegelapan. Harapannya timbul tenggelam karena sang ikhwan terus menatapnya dari balik hijab dan menunggunya mengucapkan kata yang sama. Tapi sang akhwat tiada merasa perlu mengatakannya karena cinta yang dia berikan kepada ikhwan itu telah ternoda oleh nafsu. Akhwat hanya berharap ada secercah cahaya yang memberinya kekuatan untuk bangkit. Bangkit dari harapan tak bertepi yang melahirkan fenomena kehidupan. Akhirnya Allah mengabulkan pintanya dalam cahaya remang misyqat bening di tembok surga…

Kini akhwat tahu bahwa dirinya tak lagi menjadi harapan bagi sang ikhwan… Alam menceritakan bahwa sang ikhwan telah ghadul bashar bahkan dari jarak ribuan kilometer. Bahwa sang ikhwan telah tegas seperti sedia kala ketika harus berhadapan dalam agenda dakwah. Bahwa sang ikhwan semakin khusyuk dalam munajat dan ikhtiyarnya mendekati Allah. Bahwa sang ikhwan telah menjadikan Allah sebagai tumpuannya dalam setiap sujud dan takbir. Bahwa sang ikhwan semakin karib dengan ayat-ayat Al-Qur’an dan tadabburnya. Subhanallah…

Perlahan airmata akhwat menitik mendengar alam mengisahkan. Akhwat tahu ia sedih sekali mengetahui kini dirinya tiada lagi yang mencinta, tapi ia juga bahagia dirinya yang dhoif dan fana ini tak mengotori hati ikhwan yang khusyuk bermunajat pada Sang Ilahi Rabbi. Kini ia tahu bahwa mereka saling mengikhlaskan satu sama lainnya karena cinta mereka pada Allah. Mereka ada untuk Allah dan akan selamanya seperti itu. Kini hijab hijau yang terhampar diantara keduanya panjang terbentang dan tidak akan terbuka selama-lamanya kecuali takdir Allah mengatakan berbeda.

Akhwat itu tersenyum pada Allah dalam tangis malamnya. Akhwat itu menangis haru pada Allah dalam relung hatinya. Andai mereka tahu rasanya mengikhlaskan kekasih yang dicinta demi Allah, maka tiada lagi Virus Merah Jambu mengantarkan para aktivis dakwah lain ke panasnya bara neraka. Thanks a lot Allah… Engkau selamatkan hamba dari panasnya bara neraka. Semoga hamba layak menjadi bidadari surga-Mu… kata akhwat itu dalam hati. Akhwat itu lalu memberikan senyuman manis pada dunia dan ia terlelap di sajadah tuanya untuk selama-lamanya…

Untuk setiap aktivis dakwah…
Jagalah Allah di hatimu, maka Allah akan menjagamu selalu. Selamanya…